Home > Renungan > Dimanakah Engkau Tuhan?

Dimanakah Engkau Tuhan?

Nina menunduk menatap sepatunya yang sudah butut. Sepatu itu sebenarnya sudah tidak layak untuk dipakai, tetapi dia tidak memiliki sepatu lain. Sejak hidup bersama neneknya, dia tidak bisa meminta kepada siapapun. Anak kecil itu hanya bisa menerima dan menerima segala yang harus ia terima.

Susi kakaknya ikut budhe di Lampung, dan sudah hampir dua tahun ia tidak bertemu dengannya. Apakah nasibnya sama dengan dirinya, dia sama sekali tidak tahu. Semenjak ayah dan ibunya berpisah, ayahnya entah pergi kemana dan ibunya kerja di Jakarta, dia dan mbak Susi hidup prihatin.

Neneknya yang sudah janda, tahun lalu pensiunan dari perusahaan air minum tempatnya bekerja. Uang pensiun yang sangat sedikit itu digunakan untuk membiayai hidupnya dan juga membiayai sekolahnya. Ibunya sendiri hanya tiga bulan sekali pulang dan membawa pulang uang hasil kerjanya di Jakarta. Ibu selalu bercerita bahwa biaya hidup di Jakarta sangat mahal, dan ia hanya bisa menyisakan sedikit uang untuk dibawa pulang. Nina tidak pernah menuntut dari ibunya. Sepenuhnya ia bisa memahami keadaan da tidak ingin membuat pusing pikiran ibunya.

Tetapi kini ia benar-benar kebingungan dan tak tahu harus bagaimana. Dia hanya memegang surat teguran dari sekolah yang tidak pernah dia sampaikan ke ibu atau neneknya. Surat teguran itu adalah surat ketiga karena ia sudah berbulan-bulan tidak membayar SPP. Nina merasa sedih karena surat teguran yang ketiga berisi ancaman, jika tidak segera dilunasi ia akan dikeluarkan dari sekolahnya.

Baju seragam putih-putih masih tergeletak diatas meja dan belum dia kenakan. Terbayang olehnya bahwa baju itu tidak pernah lagi ia kenakan karena dia tidak lagi bisa bersekolah. Apakah cita-cita untuk lulus dari bangku SMP pun tidak akan bisa ia raih? Dia tidak mempunyai cita-cita yang tinggi, selulus bangku SMP dia akan bekerj, entah bekerja apa nanti. Mungkin jadi pelayan toko atau mungkin membantu berjualan Mbok Reso di pasar. Tapi setidaknya dia bisa lulus SMP, karena sudah dua tahun biaya dikeluarkan untuk masuk ke SMP swasta ini, sayang jika biaya dan waktu setahun itu hilang percuma.

Pintu terbuka sedikit berderit, Nina serta merta menyembunyikan surat teguran itu dibawah bantal. Neneknya berdiri di pintu dan memandang lembut.

“Nin…mengapa belum ganti pakaian? Nenek sudah menggoreng ikan asin untukmu.”

“Ya Nek, sebentar lagi. Silakan nenek makan dahulu saja.”

“Tidak Nduk. Nenek tidak sarapan. Nenek buru-buru akan ke kantor pos untuk mengambil pensiun. kamu minta dibeliin apa?”

“Nggak usah dbeliin apa-apa nek. Nenek hati-hati saja di jalan ya!”

Perempuan itu tersenyum dan segera berlalu dari depan kamar Nina. Segera Nina mengenakan baju. Dia tidak ingin neneknya semakin curiga karena dia tidak berangkat sekolah. Nanti jika dia dipanggil kepala sekolah berkaitan dengan teguran itu dia akan menghadapinya. Entah nanti apa yang akan dia katakan, tetapi setidaknya ada kebijaksanaan dari beliau untuk memperbolehkan dia tetap melanjutkan sekolah. Nina berharap ancaman di dalam surat tersebut hanya sekedar gertakan dan tidak akan benar-benar terjadi.

Di depan pintu kelas, ibu guru sudah menghadang Nina dan menyuruh Nina untuk menghadap kepala sekolah sebelum masuk kelas. Hati Nina tercekat, terlebih ketika melihat raut gurunya yang masam. Dengan langkah pelan Nina berbalik menuju kantor kepala sekolah.

Lima belas menit kemudian, Nina keluar dari ruangan dari ruangan kepala sekolah dengan wajah menunduk. Air matanya mengalir di pipinya, sebentar-sebentar bahunya berguncang. Dia terus melangkah keluar dari halaman sekolah untuk pulang. Kepala sekolah memutuskan untukm mensokrs dia tidak boleh mengikuti pelajaran sampai dia bisa membayar tunggakan SPP. Sepanjang perjalanan, Nina berusaha untuk menghentikan tangisannya. Dia tidak ingin ketika dia sampai dirumah, neneknya belum berangkat dan melihat dia pulang. maka Nina mengambil arah memutar dan berharap neneknya sudah berangkat sebelum dia sampai ke rumah.

Cukup lama Nina berjalan menyusur jalan sebelum akhirnya dia sampai di depan rumah. Ketika hendak melangkah masuk, pintu rumah terbuka dan neneknya berdiri memandang Nina dengan pandangan penuh tanya.

“Lho kok sudah pulang, Ndhuk?”

Nina hanya diam sambil terus melangkah menunduk.

“Ada apa? Apa kamu sakit?” Tanya neneknya sambil menyongsong kedatangannya.

Nina hanya menggeleng lemah, dan meledaklah tangisnya tak tertahankan, Nina menghambur ke arah neneknya yang segera memeluknya.

“Ada apa Ndhuk?” Ayo..ayo masuk, nggak enak kalau dilihat orang kalau kamu menangis begini.” Dengan dirangkul neneknya, Nina langsung berlari menuju kamar dan tangisannya semakin keras.

Entah berapa lama Nina menangis, neneknya hanya duduk di tepi pembaringan sementara tangannya membelai lembut rambut Nina. Tangisan Nina agak reda, sesekali isaknya masih terdengar, berulang kali sang nenek menghela nafas panjang.

“Ndhuk kamu ngga usah bercerita. Nenek sudah tahu apa yang kamu alami. Nenek sudah membaca surat teguran dari sekolahmu. Hari ini kamu dirumah saja, biar besok nenek yang menghadap Kepala Sekolahmu.”

Nina mengangguk pelan, pandangannya menerawang jauh menembus langit-langit rumahnya.

(rantingembun_yogya@yahoo.co.id)

Categories: Renungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: